Kolumnis Opini

Strategi Pembelajaran Ramah Anak Saat Belajar Dari Rumah

Juni 5, 2020

Strategi Pembelajaran Ramah Anak Saat Belajar Dari Rumah

Penerapan strategi pembelajaran ramah anak dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan loh dari rumah loh, Bunda ~

SUKMA.CO – Merebaknya wabah virus COVID-19 turut membawa perubahan yang signifikan serta telah melumpuhkan berbagai bidang. Pada bidang pendidikan, terhitung sudah tiga bulan lebih pemerintah mengambil kebijakan dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar dari rumah. Pembelajaran berbasis daring dengan menggunakan metode e-learning dilakukan guna meminimalisir terjadinya penyebaran kluster baru COVID-19 di lingkungan sekolah. Namun penerapan pembelajaran daring tidaklah seefektif pembelajaran dengan metode tatap muka secara langsung. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) setidaknya telah menerima 51 pengaduan dari berbagai daerah yang mengeluhkan anak menjadi tertekan dan kelelahan karena beban tugas selama belajar di rumah[1].

Baca Juga: Ketika Media Bicara Virus Corona Maka Sambutlah Psikosomatis

Apa saja strategi pembelajaran ramah anak yang dapat dilakukan dari rumah?

Problematika pembelajaran daring yang sebagian besar dialami anak diantaranya tugas yang diberikan terlalu banyak, tenggat waktu pengumpulan tugas yang sangat sempit, tidak adanya kesempatan untuk berdiskusi dengan guru, serta komunikasi antar guru dan siswa yang bersifat satu arah. Karenanya perlu adanya fleksibilitas dan kelonggaran dalam pembelajaran. Pembelajaran tidak menuntut anak untuk mengejar ketercapaian kurikulum dan ketuntasan belajar, sebaiknya menerapkan konsep belajar dengan mengaitkan antara materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Hal dilakukan guna tercapainya “merdeka dalam belajar” sehingga kualitas kebermaknaan dalam pembelajaran (meaningfull learning) dapat dirasakan oleh anak, guru, dan orang tua. Lalu bagaimana strategi menciptakan pembelajaran yang ramah anak saat belajar dari rumah?

  1. Tentukan jadwal yang pasti saat anak belajar

Hal pertama yang harus dilakukan saat anak belajar dari rumah ialah menentukan jadwal belajar anak yang pasti. Sebaiknya guru sudah memberikan jadwal sehari sebelum jadwal belajar anak dilaksanakan, hal ini akan memberikan pandangan kepada anak kapan waktu belajar akan dimulai dan kapan waktu belajar akan berakhir. Selain itu fungsi jadwal belajar yang pasti akan menjadi “alarm” bagi orang tua untuk mengontrol serta mengarahkan anak dalam belajarnya disela aktivitas yang dilakukannya.

  1. Berikan waktu jeda setelah anak selesai belajar

Pada poin pertama telah dijelaskan bahwa penting untuk menentukan jadwal yang pasti saat anak belajar. Hal ini akan berhubungan dengan poin kedua dimana anak akan diberikan waktu jeda saat selesai belajar. Pemberian waktu jeda ini dilakukan karena anak pasti akan merasa jenuh dan capek jika dipaksa belajar terus menerus. Karenanya saat waktu jeda diberikan, anak dapat melakukan kegiatan suka-sukanya sebagai bentuk relaksasi. Dengan demikian, saat pembelajaran dimulai kembali energi anak sudah terisi dan anak akan menjadi lebih fokus dalam proses belajarnya.

  1. Berikan muatan yang bersifat interaktif dan kecakapan hidup (life skills)

Untuk memberikan variasi dalam pembelajaran, proses belajar dirumah penting untuk mengubah bentuk pembelajaran dari tekstual menjadi kontekstual. Hal ini dilakukan untuk melibatkan anak secara penuh (engaged) selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui pemberian media pendidikan life skills, anak akan diberikan bekal learning how to learn, sekaligus learning how to unlearn. Sehingga anak tidak hanya belajar teori, tetapi mempraktikkannya secara langsung untuk memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari.

Pendidikan life skills dapat diberikan dengan mengacu pada fenomena yang sedang dihadapi saat ini, misalnya mengenai pandemi COVID-19. Anak dapat diajak untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungannya dengan mengkampanyekan langkah-langkah pencegahan COVID-19 serta membersihkan area sekitar tempat tinggalnya. Kemudian anak dapat diajak untuk membuat kreasi barang yang mudah dan bermanfaat dari bahan-bahan yang ada disekitar rumah, seperti membuat desinfektan untuk menjaga kebersihan lingkungan dari paparan virus dan bakteri, menanam tanaman di sekitar rumah, membantu orang tua memasak makanan, membuat celengan kreasi, membuat tas dari kaos bekas, dan berbagai aktivitas life skills lainnya.

  1. Kolaborasikan anak dalam project based learning

Project based learning merupakan suatu upaya untuk mengkolaborasikan anak dengan sesamanya. Hal ini dirancang untuk memberikan tantangan bagi anak untuk mengatur dirinya sendiri hingga kelompoknya. Penerapan project based learning dapat dilakukan jika anak sudah memiliki kemandirian dalam belajar dan mengelola dirinya, yakni ketika anak memasuki jenjang SMP dan SMA. Pembelajaran dengan cara kolaborasi ini mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, peduli, kerja sama, mandiri, persatuan, kerja keras, dan kreativitas. Serta jika anak diamanahkan untuk menjadi ketua kelompok, maka ia akan belajar untuk bersikap adil dan mengayomi anggota kelompoknya.

  1. Berpandangan positif akan hasil belajar anak

Mengingat masa pandemi COVID-19 merupakan masa-masa rentan stressor, baik orang tua maupun anak memiliki beban tersendiri. Para orang tua berkutat dengan perbaikan keadaan finansial sedangkan para anak dengan pembelajaran daringnya. Hal ini sedikit banyak memicu stressor yang akan melemahkan keadaan psikis dan emosional seseorang. Karenanya orang tua dalam menemani belajar anak dirumah untuk berfokus pada spirit dan kesungguhan anak, janganlah terpaku pada kesempurnaan hasilnya. Mengingat dukungan moril sangat diperlukan oleh anak untuk tetap fokus belajar selama dirumah.

  1. Berikan apresiasi pada anak

Terakhir, sangat penting bagi orang tua untuk memberikan apresiasi pada anak. Apresiasi akan meningkatkan keyakinan diri anak sehingga ketika anak dihadapkan pada situasi yang sulit, ia mencoba untuk menyelesaikannya. Orang tua dapat memberikan apresiasi pada anak dari hal kecil seperti memberikan ucapan terima kasih atas kerja keras anak pada hari itu, hingga memberikan hadiah-hadiah kesukaan anak jika anak melakukan hal baik secara konsisten.

Tak bisa dipungkiri, mengalihkan proses pembelajaran anak dari sekolah ke rumah tidak bisa dibilang mudah. Perlu adanya komunikasi dua arah antar orang tua, guru, sekolah, hingga anak. Orang tua turut berperan memberikan fasilitas dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan di rumah, sedangkan guru berperan memberikan pembelajaran yang efektif, menarik, dan fleksibel. Semoga pandemi COVID-19 segera berakhir, doa terbaik bagi pendidikan Indonesia.

[1] Pancawati, Dewi. 2020. Suka Duka Belajar di Rumah. Dalam https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/03/26/suka-duka-belajar-di-rumah/ (diakses 13 Mei 2020)

 

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!