Opini

Quarter Life Crisis, Mengapa Kita Mengalaminya?

April 28, 2022

author:

Quarter Life Crisis, Mengapa Kita Mengalaminya?


Sukma.co – Quarter Life Crisis, disadari atau tidak, kita pasti pernah mengalaminya. Sebuah titik di mana kita merasa ragu akan diri kita sendiri. Ragu, takut, bahkan pesimisis dalam menjalani hidup. Baik di dunia maya ataupun dunia nyata, tidak sedikit orang yang mempunyai ketakutan untuk hidup di era milenial ini. Banyaknya komparasi yang terjadi membuat ketakutan itu semakin menjadi.

“Aku takut gagal.”

“Aku gabisa deh seperti mereka.”

“Aku khawatir banget soal masa depan.”

“Sedih, udah 25 tahun aja tapi masih jadi beban keluarga.”

Kalimat di atas sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Banyak orang mengeluh, pesimis, bahkan merasa hidupnya kurang berharga. Timbul banyak pertanyaan mengenai mengapa fenomena itu terjadi? Apakah itu lazim? Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya?

Erikson, salah satu ahli perkembangan psikologi sosial menyatakan bahwa fenomena tersebut terjadi karena tahapan perkembangan sebelumnya belum terpenuhi, yakni pencarian identitas. Akibatnya, usia yang seharusnya masuk dalam tahap perkembangan dewasa awal, yakni masuk pada komitmen dalam menjalin relasi dan interaksi dengan orang lain malah mengalami krisis identitas (Baumeister, 1985).

Dalam ilmu psikologi, fenomena tersebut dikenal dengan istilah Quarter Life Crisis (QLC). Lantas apa Quarter Life Crisis itu?Quarter Life Crisis merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosi negatif. Perlu kita garis bawahi di sini bahwa QLC secara umum dialami oleh orang-orang dengan rentang usia 20 tahun, yang artinya QLC ini merupakan hal yang lumrah dirasakan. Salah satu bentuk dari QLC adalah kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah. Quarter Life Crisis umum dirasakan oleh orang-orang dengan rentang usia 20 tahun, namun akan berakibat fatal apabila tidak terselesaikan dengan baik. Juga kemungkinan akan memicu masalah baru dan bahkan menganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga :   Mengapa Sebagian Kita Masih Bebal Saat Pandemi?

Dampak Negatif & Positif Quarter Life Crisis

Kok di usia 20 ini aku ga bisa seperti mereka… yang udah lanjut S2, udah punya mobil… udah menikah

Bisa jadi kalimat di atas pernah terlintas di pikiran kita yang menjadikan waktu rebahan menjadi tidak nyaman karena overthingking. Amelia Hill dalam The Guardian sebuah survei menunjukkan bahwa 86% dari 1.100 anak muda mengalami QLC, mereka mengaku merasa tertekan untuk bisa sukses dalam semua aspek dalam waktu tertentu. Hubungan, keuangan, dan pekerjaan diharapkan berhasil sebelum mencapai usia 30 tahun.

Salah satu dampak negatif dari Quarter Life Crisis adalah membandingkan diri yang berlebihan terhadap pencapaian orang lain. Apabila kita terlalu larut dalam komparasi, akan berubah menjadi tekanan (stres) hingga bermutasi menjadi gangguan depresi. Namun hal ini bukan sesuatu yang perlu kita takutkan, sebab terdapat pula dampak positif dari QLC. Perasaan tertekan yang disadari akan menumbuhkan upaya nyata untuk mengatasi dan mencari solusi serta berfokus pada pengembangan diri, pengelolaan dan pengendalian diri sangat penting untuk menghadapi QLC. Lalu timbulah pertanyaan bagaimana cara untuk mengahadapi QLC?

Bagaimana Cara Menghadapinya?

Lagu berjudul “takut” karya Brigita Meliala yang menuai banyak komentar positif karena sangat relate dengan kehidupan mayoritas remaja akhir dan dewasa pada rentang usia 20 tahun. Lirik lagu ini dirasa mampu mewakili perasaan mengenai rasa takut menjadi dewasa, khawatir mengenai masa depan, dan kebingungan arah dan tujuan hidup, secara umum lagu ini mengajak pendengarnya untuk mengekspresikan perasaanya mengenai problematika Quarter Life Crisis sekaligus mengatakan bahwa “kamu tidak sendirian”. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa musik dan lagu menurut Andaryani (2019) mampu menjadi media terapi mengatasi tekanan kehidupan hingga depresi. Oleh karena itu bagi pemuda-pemudi yang masih menahan (merasa terbebani tetapi mengatakan tidak apa-apa) perlu menumbuhkan kesadaran bahwa tidak baik-baik saja untuk sementara waktu juga terkadang menjadi hal yang baik (menangis, sedih, takut) asalkan sesuai dengan porsinya masing-masing.

Jauh sebelum muncul istilah QLC, terdapat artikel yang memuat teori filsuf terkemuka di abad pencerahan bernama Immanuel Kant. Menariknya, penulis menemukan kiat-kiat untuk menghadapi QLC dalam teori Immanuel Kant mengenai filsafat moral atau yang dapat disederhanakan menjadi konsep “IUH”. Huruf ‘I’ bermakna sebagai kalimat “inginkan” yang dapat diartikan pada pertanyaan terhadap diri sendiri mengenai “apa yang sejatinya kita inginkan dalam dunia ini?”. Setelah itu huruf ‘U’ dimaknai sebagai “usaha” sehingga setelah mengetahui apa yang sejatinya diinginkan, pertanyaan tersebut berganti menjadi “apa yang bisa diusahakan untuk mencapai atau meraih apa yang kita inginkan tersebut?”. dan terakhir huruf “H” yang dapat dimaknai sebagai “Harapkan” sehingga muncul pertanyaan “apa yang dapat kita harapkan?” setelah mengetahui apa yang kita inginkan dan kita usahakan.

Baca Juga :   Memodifikasi Ingatan Untuk Menghilangkan Emosi Negatif dalam Novel "Hujan" dan Drama Korea "Circle: Two Worlds Connected"

Secara praktis, konsep ini dapat digunakan oleh kawula muda yang merasa khawatir, bingung untuk mengarahkan tujuan hidup dengan perenungan mengenai apa yang sejatinya diinginkan, apa yang seharusnya diusahakan, dan apa yang bisa diharapkan setelah berusaha. Contoh penerapan dari konsep ini adalah apabila ingin menjadi seorang yang ahli pada bidang kepenulisan, maka hal yang dapat diusahakan adalah rajin membaca, menulis. Juga mencoba untuk mengirim tulisan ke penerbit atau media, sehingga dari usaha tersebut akan timbul apa yang bisa kita harapkan. Langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi, dan konsistensi. Jadi untuk kamuyang merasa tertekan, khawatir, takut gagal di usia 20an itu lumrah namun fenomena tersebut harus disiasati pada pencarian solusi, bukan malah terperangkap dalam perasaan negatif tersebut. Sekian semoga bermanfaat.

Penulis: Alif Muhammad Zakaria, Mahasiswa Program Magister Psikologi Pendidikan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah, M.Psi.


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!