Opini

Warna Biru Daun Madura; Lingkungan, Persepsi, dan Budaya

Juli 29, 2020

author:

Warna Biru Daun Madura; Lingkungan, Persepsi, dan Budaya

Sebutan “Biru Daun” bagi orang Madura bukanlah suatu kesalahan, tetapi memang telah menjadi faktor lingkungan di kalangan mereka.

Warna Sebagai Simbol dan Hasil Bentukan Lingkungan

SUKMA.CO Melihat dengan kedua bola mata pada dunia memang sangat mengasyikkan, apalagi warna hamparan sawah di pagi hari yang menyejukkan jiwa dan raga. Bagaimana tidak, hanya karena warna memberikan stimulus pada mata menjadikan sensasi yang ditangkap syaraf sehingga otak kita akan muncul persepsi yang dikonsep oleh setiap insan. Konsep persepsi inilah yang bermacam-macam setiap individu.

Banyak yang memengaruhi persepsi individu, mulai dari internal maupun eksternal. Hal unik adalah dari kalangan orang Madura dengan sebutan “Biru Daun”. Hal ini tentu bukan salah ucap, melainkan faktor lingkungan yang memberikan persepsi berbeda daripada masyarakat luas di Indonesia.

Baca juga: Dewi Ayu “Cantik Itu Luka” dalam Perspektif Feminisme

Ucapan “Biru Daun” bukan pula sebab buta warna, melainkan memang persepsi orang Madura demikian, dimana warna hijau pada umumnya disebut biru oleh orang Madura. Dan sebutan biru disebut hijau oleh mereka. Ini bukan kesalahan, tetapi memang telah menjadi faktor lingkungan di kalangan mereka.

Penulis pun tidak menyangkal hal demikian, karena warna adalah simbol. Simbol membedakan antara satu dengan lainnya. Bahkan terkadang menjadi sebuah makna yang mendalam. Seperti warna putih sebagai simbol kesucian, warna merah sebagai simbol semangat yang bergelora atau keberanian, warna biru sebagai simbol ketenangan, atau juga beberapa warna yang bahkan disangkutpautkan dengan Agama tertentu.

Baca juga: Psikologi positif antara manusia dan COVID-19

Bahkan karena penyebutan Biru Daun hanya dilakukan oleh orang Madura(walau sekarang tidak semuanya), hal ini menjadi ciri khas dan labeling yang disematkan pada mereka. Mungkin bagi mereka yang belum tahu akan kebingungan, tetapi ketika sudah paham situasinya, mereka akan mudah mengerti maksudnya. Semisal Ketika di perempatan lampu merah, “Bos. Lampunya sudah biru” tentu tidak akan membingunkan apa yang dimaksud, walau kenyataannya di lampu lalu lintas tidak ada warna biru. Tapi hal ini telah lumrah dan bisa dimaklumi.

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!