Psikologi Populer Subtansi Sukma

Menjadi Taruna Bahagia: Pelatihan Resiliensi Untuk Meningkatkan Psychological Well-Being Taruna Akademi Angkatan Laut

Juli 20, 2020

Menjadi Taruna Bahagia: Pelatihan Resiliensi Untuk Meningkatkan Psychological Well-Being Taruna Akademi Angkatan Laut


Dalam artikel ini, beberapa riset menjelaskan bagaimana Pelatihan Resiliensi dapat meningkatkan Psychological Well Being pada Taruna AL. Pahami mengapa demikian. 

SUKMA.CO – Berbagai tuntutan yang dibebankan pada taruna angkatan laut berpotensi mengganggu kondisi psikologis dan kesehatan fisik (Goodwin et al., 2015). Kondisi individu yang berada pada pendidikan militer berpotensi merasa stres dan memiliki beban penyesuaian tugas yang berat berdampak pada rendahnya kesejahteraan psikologis atau psychological well-being (De Terte & Stephens, 2014).

Psychological well-being merupakan suatu kondisi dimana individu memiliki sifat positif pada dirinya sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan sendiri, mengatur tingkahlakunya sendiri, menciptakan dan mengatur lingkungan yang kompatibel dengan kebutuhanya, serta memiliki tujuan hidup dan membuat hidup yang lebih bermakna, dan berusaha mengeksplor dirinya (Ryff & Keyes, Corey, 1995).

Mengutip dari riset yang dilakukan oleh James yang dimuat dalam The Lancet, berbagai tuntutan dan tekanan yang dihadapi oleh para taruna dapat berdampak pada kesejahteraan psikologisnya. Taruna yang kesulitan menyesuaikan diri dengan berbagai tekanan dan tuntutan yang diberikan cenderung memiliki kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang terbatas.

Psychological well-being juga dapat berdampak pada kesehatan fisik. Psychological well-being yang rendah mengakibatkan seseorang berpotensi memiliki gangguan kesehatan fisik (Goodwin et al., 2015).

Data dari wawancara yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) terhadap petugas poliklinik AAL juga menyatakan bahwa sebagian besar taruna mengalami stres yang berpengaruh pada kondisi fisik mereka misalnya meningkatnya kadar asam lambung sehingga sering mual, muntah, diare, dan turunnya daya tahan tubuh sehingga sering flu.

Beberapa taruna juga ingin lebih lama dirawat di poliklinik dan enggan kembali ke satuannya. Bahkan ada taruna yang pura-pura sakit untuk menghindar dari tugas.

Baca Juga :   Liputan Kampus: KKN Posko 16 Pilih Memanusiakan Sampah daripada Menyampahkan Manusia

Melalui data-data di atas, dapat disimpulkan bahwa taruna AAL angkatan X memiliki kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang rendah. Kondisi ini berdampak pada aspek-aspek psychological well-being yaitu penguasaan lingkungan (environmental mastery), pertumbuhan diri (personal growth), dan kemandirian (autonomy) taruna dengan lingkungan barunya yang menuntut kemandirian dalam menjalankan tugas keperwiraan maupun mengurus diri sendiri serta lingkungannya.

Pada aspek psychological well-being lain yaitu relasi sosial (positive relations with others), taruna angkatan X juga kurang peduli dengan teman seangkatannya dan kurang mampu menjalin relasi dan komunikasi yang positif dengan seniornya. Sedangkan pada aspek penerimaan diri (self-acceptance) para taruna juga kurang mampu menerima perubahan tatanan hidup dari masyarakat sipil ke tatanan militer, khususnya kehidupan taruna angkatan laut.

Taruna, Resiliensi, dan Psychological Well Being

Rendahnya tingkat psychological well-being taruna perlu dicari solusinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being memiliki korelasi positif dengan resiliensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa apabila seseorang memiliki resiliensi yang tinggi maka individu tersebut juga memiliki psychological well-being yang tinggi (Eisen et al., 2014).

Resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan maupun kapasitas individu untuk mengatasi dan melakukan adaptasi terhadap kejadian berat atau masalah yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan bertahan dalam kedaan tertekan bahkan berhadapan dengan kesengsaraan atau trauma yang dialami dalam kehidupan (Mayordomo et al., 2016).

Individu yang memiliki resiliensi memadai cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang bagus (Reivich & Seligman, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa pelatihan resiliensi penting dilakukan untuk meningkatkan psychological well-being para taruna AL angkatan X. Pelatihan resiliensi yang diberikan pada penelitian ini yaitu mastery resilience training (MRT). MRT terbukti efektif digunakan untuk meningkatkan psychological well-being pada tentara di Amerika (US Army) bahkan sudah menjadi kurikulum wajib pada masa pendidikan (Reivich & Seligman, 2011). Beberapa mahasiswa magister psikologi Ubaya memberikan MRT terhadap beberapa taruna angkatan laut.

Baca Juga :   Undang Undang Cinta 2019 : Bukan Pembukaan

Adapun sesi yang diajarkan pada MRT yaitu: 1) resilience and six core resilience competence yang mengarah pada mengarah pada aspek enviromental mastery; bulding mental toughness mengarah pada aspek enviromental mastery; 3) identify character streng mengarah pada aspek personal growth; 4) strengthening relationship mengarah pada kemampuan mengarah pada aspek relationship with others; 5) stres management mengarah pada aspek envoromental mastery; dan 6) pump up your resilence mengarah pada aspek enviromental mastery.

Hasil pelatihan menunjukkan bahwa MRT efektif untuk meningkatkan psychological well-being taruna angkatan X sehingga mereka dapat mengoptimalisasikan potensi yang dimiliki dalam menjalani kehidupan sebagai seorang taruna.

 

Referensi:

De Terte, I., & Stephens, C. (2014). Psychological resilience of workers in high-risk occupations. Stress and Health, 30(5), 353–355. https://doi.org/10.1002/smi.2627

Eisen, S. V., Schultz, M. R., Glickman, M. E., Vogt, D., Martin, J. A., Osei-Bonsu, P. E., Drainoni, M. L., & Elwy, A. R. (2014). Postdeployment resilience as a predictor of mental health in operation enduring freedom/operation iraqi freedom returnees. American Journal of Preventive Medicine, 47(6), 754–761. https://doi.org/10.1016/j.amepre.2014.07.049

Goodwin, L., Wessely, S., Hotopf, M., Jones, M., Greenberg, N., Rona, R. J., Hull, L., & Fear, N. T. (2015). Are common mental disorders more prevalent in the UK serving military compared to the general working population? Psychological Medicine, 45(9), 1881–1891. https://doi.org/10.1017/S0033291714002980

Mayordomo, T., Viguer, P., Sales, A., Satorres, E., & Meléndez, J. C. (2016). Resilience and Coping as Predictors of Well-Being in Adults. Journal of Psychology: Interdisciplinary and Applied, 150(7), 809–821. https://doi.org/10.1080/00223980.2016.1203276

Reivich, K. J., & Seligman, M. E. P. (2011). Master Resilience Training in the U.S. Army. American Psychologist, 66(1), 25–34.

Baca Juga :   Nestafa Kegagalan dan Mental Terjajah Kita

Ryff, C. D., & Keyes, Corey, L. M. (1995). The Structure of Psychological Well-Being Revisited. Journal of Personality and Social Psychology, 69, 719–727.

 


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!