Psikologi Populer Sukma

Menjadi HERO untuk Bahagia bagi Remaja Panti Asuhan

April 21, 2020

Menjadi HERO untuk Bahagia bagi Remaja Panti Asuhan


SUKMA.CO – Kehilangan orang tua selama masa remaja menjadi salah satu alasan tinggal di panti asuhan. Ketiadaan orang tua dipandang sebagai salah satu faktor yang beresiko menurunkan kesejahteraan psikologis atau kebahagiaan seseorang. Kehilangan orang tua di masa remaja dapat berdampak negatif seperti kurang terpenuhinya beberapa kebutuhan dasar meliputi kebutuhan fisik, sosial, dan emosional. Dampak lainnya yaitu penurunan tingkat kesehatan dan minat bermain, keinginan lebih produktif, serta dalam pengembangan hubungan baik dengan orang lain.

Selain dampak negatif kehilangan orang tua, tinggal di panti asuhan itu sendiri juga dapat menjadi faktor yang menurunkan tingkat kebahagiaan remaja. Kondisi fisik dan sosial di panti asuhan yang umumnya dihuni banyak orang dapat berdampak negatif bagi kesejahteraan mereka karena kondisi hidup tersebut akan mengurangi rasa aman dan privasi remaja. Kondisi tersebut perlu dicari solusinya agar remaja panti asuhan dapat bahagia dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

Baca Juga: Penyuluhan Berbasis Komunitas “Makazi Banyak” Makanan Bergizi Bebas Minyak

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebahagiaan remaja panti asuhan yaitu melalui pelatihan modal psikologis atau yang disingkat HERO (hope, self-efficacy, relisilience, dan optimism). Pelatihan HERO yang dilakukan dua mahasiswa magister psikologi profesi Universitas Surabaya, Setyani dan Bagus, di salah satu panti asuhan di Surabaya terbukti efektif untuk meningkatkan kebahagiaan remaja panti asuhan (Alfinuha, dkk., 2019). Optimalisasi modal psikologis yang dimiliki remaja panti dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan remaja panti asuhan.

  1. Hope (harapan)

Hal sedehana pertama yang dapat dilakukan untuk mengalihkan perasaan sedih dari kondisi ketiadaan orang tua adalah membangun pemikiran yang penuh harapan. Pengalihan perasaan negatif lain juga dapat dilakukan dengan melakukan berbagai kegiatan yang positif. Konsep membangun harapan merupakan salah satu aspek modal psikologis.

Baca Juga :   Papua
  1. Self-efficacy (keyakinan diri)

Remaja panti diajak untuk mengenali dirinya kemudian meyakini potensi-potensi yang dimilikinya dapat digunakan untuk menghadapi tugas-tugas atau situasi tertentu. Kegiatan penumbuhan keyakinan diri dalam melakukan tugas tertentu dikemas melalui berbagai permainan dan diskusi.

  1. Resilience (resiliensi)

Resiliensi melibatkan kemampuan menyesuaikan diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal. Remaja panti asuhan diberikan permainan kemudian diminta merefleksikan yang berkaitan dengan keluwesan diri dalam menghadapi kesulitan. Resiliensi ini penting dimiliki remaja panti asuhan sebagai modal dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Viral Siswa Membawa Celurit: Ada Apa Dengan Pendidikan Kita?

  1. Optimism (optimisme)

Optimis diartikan sebagai sikap yang selalu berpengharapan baik dalam menghadapi segala sesuatu. Rasa optimis penting sebagai modalitas remaja panti dalam menghadapi berbagai kesulitan yang dialami. Perasaan yakin terhadap sesuatu yang baik akan terjadi yang memberi harapan positif serta menjadi pendorong untuk berusaha ke arah kesuksesan.

Secara umum, pelatihan HERO yang diberikan menggunakan metode games atau permainan yang kemudian direfleksikan bersama melalui diskusi kelompok. Hal ini dinilai efektif dalam menumbuhkan sikap HERO bagi remaja karena memiliki pengalaman secara langsung melalui metode permainan dan merefleksikan inti materi yang dapat dipelajari dari permainan tersebut. Sikap HERO sangat penting dimiliki sebagai modalitas psikologis khususnya bagi remaja panti asuhan untuk mencapai kebahagiaan.

 

 


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!