Kolumnis

Menangkal dan Mengenali Ciri-Ciri Toxic dalam Bermedia Sosial (Bag. 2. Selesai)

Agustus 4, 2020

author:

Menangkal dan Mengenali Ciri-Ciri Toxic dalam Bermedia Sosial (Bag. 2. Selesai)


SUKMA.COSudah tahu pemberitaannya sering berlebihan, bukannya menangkal dan mengenali ciri toxic, tetapi masih saja dikonsumsi. Apalagi kalau bukan kikir kognisi? 

Ini adalah tulisan kedua mengenai toxic dalam media sosial. Bagian pertama dapat dibaca di sini


Saya menghormati seseorang yang menjadikan media sosial sebagai sarana pembelajaran, misal mendapatkan refrensi lifestyle, tips singkat, maupun wadah silaturrahmi. Namun, saya kadang geli (lebih sering kesel) melihat seseorang menjadikan media sosial sebagai tempat mendapatkan kebenaran mutlak. Kebenaran mutlak itu yang berkaitan ideologi, paham, kabar isu maupun hal-hal yang kebenarannya masih simpang siur.

Mengapa geli? Karena, sebenarnya media sosial tidak benar-benar menampilkan informasi yang kaya. Sebaliknya, media sosial hanya mengerucutkan dan menyesuaikan informasi dengan selera kita. Hal tersebut karena ada yang disebut sebagai algoritma dalam media sosial.

Ada sebuah algoritma yang kerjanya untuk menghadirkan informasi paling relevan sesuai selera masing-masing pengguna. Itulah sebabnya tampilan menu explore instagram tiap orang berbeda meski mengikuti akun yang sama. Tampilan video di youtube kita berbeda meski membuka di waktu yang sama. Itulah juga mengapa dari ratusan bahkan ribuan teman kita di media sosial yang sering muncul tidak kurang dari 0,1% dari total teman.

Baca juga: Apakah fetish selalu berarti gangguan seksual?

Sebenarnya, algoritma sendiri punya dua sisi mata pisau. Di sisi pertama, algoritma bekerja dengan “niat” yang baik. Ia hanya ingin melayani sesuai selera kita, sehingga apa yang kita dapatkan pada layar media sosial betul-betul telah disusaikan dengan yang kita minati.

Di lain sisi, algoritma juga bekerja seperti dengan cara membangun tembok tebal, sehingga kita tidak bisa melihat pemikiran lain dari apa yang telah disesuaikan algoritma untuk kita.

Baca Juga :   Negara Paling Dermawan dan Bukti Altruistik Orang Indonesia

Maksudnya, algoritma seperti membangun isolasi mandiri pada intelektual kita. Itulah sebabnya tidak mengherankan bila melihat orang yang mendapatkan informasi dari media sosial akan menjadi sangat fanatik terhadap asumsinya dan anti-keberagaman sudut pandang. Merasa dapat informasi yang cukup, padahal ia saja yang tidak bisa melihat adanya hal lain yang berbeda dengan seleranya.

Kemungkinan Bias dan Hoax

Durasi penggunaan media sosial yang sering dan informasi yang terus menerus terpapar informasi yang seragam, maka akan menghasilkan bias maupun tidak mampu membedakan tiap berita yang diterima. Menurut beberapa riset psikologi, ditemukan bahwa orang kerap kali ‘kikir kognitif’ dalam bermedia sosial. Kikir kognisi yang dismaksud adalah kondisi di mana individu memiliki kemampuan otak yang baik, tetapi enggan menerapkannya dalam beberapa hal. Termasuk menyaring informasi.

American Psychological Association (2017) melakukan survei terhadap 3.440 warga Amerika Serikat dengan usia 18 tahun. Hasilnya, sebanyak 95% responden membaca berita secara rutin. Dari persentase tersebut, 72% responden merasa pemberitaan di media dikemas secara berlebihan. Ini yang jadi masalah. Sudah tahu pemberitaannya sering berlebihan, tetapi masih saja mengkonsumsi pemberitaannya. Apalagi kalau bukan kikir kognisi? Akibatnya, semakin banyak seseorang mendengarkan sesuatu di media sosial, semakin besar kemungkinan seseorang mempercayai sesuatu hal tersebut sebagai kebenaran.

“Tidak membagikan ke orang lain itu bukanlah dosa, tetapi bagian dari ikhtiar untuk menjaga silaturrahmi”

Keterpaparan dan kepercayaan informasi dari media sosial adalah kinerja algoritma yang mempengaruhi cara berpikir kita. Buruknya, karena informasi yang diterima berdasarkan selera kita, atau berarti artinya subyektif, karena algoritma menyediakan informasi yang subyektif dan yang disukai, maka ada kecenderungan tidak memikirkan secara berimbang kandungan informasi. Sehingga algoritma gagal memberikan opini yang berimbang dan bebas dari tendensi ketidakadilan seperti menyuarakan kepentingan/kebaikan bersama atau menghadirkan suatu segmen opini yang mayoritas.

Baca Juga :   Trauma Healing Dalam K-Drama It's Okay Not To Be Okay

Baca juga: Pelatihan resiliensi untuk meningkatkan PWB taruna

Menuju Media Sosial Damai

Saya kira kita harus memahami semangat kelahiran media sosial. Media sosial awal mulanya diperuntukkan untuk saling menyambung silaturrahmi dan menambah pertemanan orang dengan orang (account by account). Lalu kemudian datang berbagai kepentingan di dalamnya, seperti akun lembaga, komunitas, perusahaan, akun pribadi politikus hingga akun propaganda kelompok ekstrim.

Jika kita termasuk orang-orang yang haus akan informasi, silahkan memanfaatkan media sosial kita untuk mendapatkan informasi, karena di sana banyak tokoh kredibel untuk menyampaikan opini. Namun, kita perlu berpikir berulang kali sebelum membagikan informasi yang kita dapatkan, sebab di luar sana ada orang-orang yang berbeda opini dengan kita dan terpapar algoritma yang berbeda pula dengan kita.

Dengan adanya orang yang berbeda dengan kita, maka tugas kita bersama untuk membuat media sosial menjadi tempat yang damai untuk berteman. Kita jaga silaturrahmi dengan tidak membagikan sesuatu yang provokatif dan menyudutkan satu golongan ataupun. Selain itu, kita memanfaatkan media sosial dengan kesadaran, bijak, patuh aturan moral dan menerapkan hukum kehidupan sehari-hari di dalam media sosial.

Tenang saja, kalau kamu yakin dengan sesuatu yang berbeda dari pandangan umum, tetapi tidak membagikan ke orang lain itu bukanlah dosa, namun bagian dari ikhtiar untuk menjaga silaturrahmi dan perdamaian di media sosial.

Baca juga tulisan menarik dari Saiful Haq lainnya atau tulisan lain terkait psikologi populer


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!
Leave a comment