Psikobisnis Sukma

Mahasiswa, Terperangkap Antri Gagal

September 6, 2018

author:

Mahasiswa, Terperangkap Antri Gagal


Mahasiswa berada dalam zona antara penguasaan keilmuan dan kesuksesan karir. Mempertemukan keilmuan dan inisiasi karir tidak harus menunggu lulus. Proses karir dapat dimulai sejak mahasiswa itu berada di bangku panas kuliah. Tetapi keniscayaan itu masih banyak diabaikan. Padahal setiap semesternya mereka sudah mendulang 12 jutaan, bisa disejajarkan dengan nilai modal yang setara dengan investasi. Apakah mereka masih harus antri gagal untuk 4 tahun ke depan ?

Sukma.co – Bagaimana mungkin mahasiswa bisa sukses sejak dini, tatkala kerugiannya tidak pernah disadari sejak memasuki jenjang kuliah. Kerugian yang nyata itu menganga lebar dan jarang disadari dengan seksama. Begini bro. Pernahkah Anda berpikir, berapa biaya yang telah dihabiskan oleh mahasiswa dalam hidupnya. Tidak banyak yang tahu hitungan riilnya. Berapa biaya hidup yang dihabiskan oleh seorang mahasiswa dalam setiap semester.

Banyak bro. Coba deh saya bantu menghitung. Hitungan ini sudah sering saya lakukan disaat mengajar kelas Psikologi Sosial. Dalam hitungan kasar, bro, mahasiswa dalam satu semester menghabiskan dana total 12 juta. Hitungan ini adalah standar kehidupan ekonomi menengah ke bawah. Bagi yang standar menengah ke atas, angka tersebut akan bertambah. Total selama delapan semester bro, stok orang tuamu menghabiskan kisaran rupiah 96 juta rupiah. Hitungan ini bro, belum biaya praktikum, praktik kerja lapangan, kuliah kerja nyata, bea skripsi. Dan bea lain yang tidak terduga.

Saat saya tanya pada sejumlah mahasiswa, mereka tidak merasa merugikan orang lain. Maksudnya, biaya itu dikeluarkan oleh orang lain (orang tua), berarti sebenarnya, kita itu telah memberikan beban hidup kita ke orang lain. Saat saya berseloroh begitu, ada mahasiswa yang nyletuk, “kan orang tua kita memberi uang sebagai bagian dari tanggung jawab mendidik anak-anaknya.” Wuih, keren kan bro jawabannya. Saya tegaskan untuk mengubah pola pikir mereka.

Oke deh, mahasiswa kan sudah dewasa awal. Tentunya kemandirian hidup penting dijiwai. Saat kehidupan kita masih utuh ditopang oleh orang lain, sejatinya bro, kita menjadi berpangku tangan. Kuliah normal-normal saja. Berangkat pulang dari kos lalu sebatas menghasilkan nilai B dan A tetapi implikasi terhadap praktik hidup tidak mampu melahirkan gagasan riil sebagai miniatur kesuksesan.

12 juta terus berjalan. Jika itu disebut sebagai modal, sudah sepantasnya akan menghasilkan laba. “Labanya ilmu bermanfaat pak,” ada yang berseloroh begitu. Saya pun menimpali, “loh, ilmu bermanfaat itu kan bisa dipraktikkan dan menghasilkan sesuatu toh. Lantas, apa manfaat yang sudah kamu berikan ke orang lain jika sudah menghabiskan waktu menguasai mata kuliah tertentu, bahkan mendapat nilai A. Lah piye, manfaat ilmu itu. Kapan dimanfaatkan sedangkan waktu terus berjalan dan modal terus dihabiskan dari jerih payah orang tua.”

Baca Juga :   Begini Langkah Relaksasi Dzikir

Kesuksesan adalah martabat diri dan tentu selalu diukur dari perolehan income finansial. Bagaimana mahasiswa tidak menyadari jika dirinya sebenarnya telah mengambil hak orang lain, tetapi atas nama kasih sayang anak, orang tua memang berkewajiban membiayai anak-anak-nya, mahasiswa seperti tidak merasa bahwa perjuangan orang tua itu menjadi pengorbanan. Coba dibayangkan, jika dalam delapan semester menghabiskan dana 96 juta maka nominal tersebut kalau dibanding-bandingkan dengan biaya haji, maka cukup untuk dua orang.

Lah dalah, mahasiswa agak terbebalalak. Mumpung terbelalak sadar kalau dana yang digelontorkan untuk mereka lumayan banyak. Jika dihitung nominal tersebut dan disejajarkan dengan kewajiban sebagai umat muslim yang wajib menunaikan haji, uang tersebut kan bisa menghajikan orang tuamu,” saya mencoba mencari celah untuk membangkitkan kesadaran mahasiswa dari tidur zona nyamannya. “Jadi, kalau Anda tidak produktif, ternyata Anda telah memotong hak orang tua Anda yang seharusnya bisa menabung untuk pergi haji.” Siapa yang dholim? Dari sini sebagian dari mereka nampak bengong, kaget dan tertegun. Zona nyamannya terkoyak.

Kalau dibandingkan dengan teman yang tidak kuliah, atau menghidupi dirinya sendiri, mereka tidak membebani orang tua, bahkan mampu hidup mandiri menghasilan income sendiri. Bekal ilmu sampai dengan SMA, entah karena terpaksa atau memang tidak lagi berminat kuliah, telah mampu memberikan keberanian untuk mandiri. Entah itu melamar pekerjaan atau mencoba merintis usaha mulai dari kecil.

Saya kemudian berkata, “apa kelebihannya antara Anda yang duduk di kelas perguruan tinggi ini dengan teman yang tidak kuliah dan sudah berpenghasilan?” Terlihat di depan saya banyak yang berekspresi berpikir. “Kelebihannya kita punya ilmu yang lebih tinggi dari mereka pak,” sahut mereka seperti membela diri.

“Okeh deh kalau begitu. Jika mereka ilmunya lebih rendah daripada kamu, dan kamu memiliki ilmu yang lebih tinggi, mengapa mereka yang disebut ilmunya lebih rendah justru berani menantang hidup mereka untuk berani merajut karir atau memulai miniatur karirnya sehingga mereka lebih mandiri, berpenghasilan dan tidak mengambil hak orang tua kan.” Saya terus mengejar mereka untuk mengubah mindset berpangku tangan. Saya melanjutkan penjelasan dengan mencoba menyusun logika transaksional.

Baca Juga :   Sekelumit Bakat dan Kesuksesan

Logika yang dibangun atas dasar fungsi materi dalam hidup kita yang diberikan oleh orang lain. Jika kita ini mempunyai ilmu yang lebih tinggi, seharusnya dengan amat logis, kita akan lebih siap mandiri dan memiiki banyak cara cerdas untuk bisa mandiri. Tetapi apa kenyataannya, berburu nilai A lantas tidak ada niatan untuk menciptakan kemandirian tersebut, bahkan inisiatif mandiri pun banyak yang belum terlintas di benak mereka. Padahal, ada bukti, seorang mahasiswa telah mampu menghidupi dirinya sendiri tanpa terlalu besar campur tangan orang tuanya dalam pembiayaan hidupnya.

“Nah, di sini ada kan contohnya. Nah, cukup saya saja yang menjadi korbannya.” Tegas saya sembari membreak kebengongan mereka. Saya baru sadar sekarang jika biaya untuk diri kita saja menghabiskan setara pergi haji. Ini bukan menghitung materialistik atas jasa ikhlas orang tua. Bukan itu maksud saya. Ini merupakan kesadaran baru bahwa kebangkitan karir seharusnya bisa dipicu dari kesadaran dini karena investasi orang tua kita sudah sangat besar. Jika diibaratkan modal, seloroh usaha tanpa harus mempunyai modal banyak, saya kira dapat kita tarik relevansinya di sini. Jika diibaratkan orang tua mengeluarkan biaya 12 juta persemester, maka kita sejatinya dimodali orang tua 12 juta. Kita tidak mengeluarkan modal kan.

Dari sini sangat logis kan ketika ilmu kita coba diselaraskan untuk mendukung praktik-praktik produktif, menciptakan karya dan memulai memasarkan karya tersebut ? Sangat bisa. Hanya tantangannya adalah keterlenaan belajar yang tidak produktif.

Nah, kalau dihitung secara kewirausahawanan, 12 juta seharusnya adalah modal yang diberikan kepada kita berupa kulakan ilmu. Maka ilmu kita sudah semestinya dapat digunakan sebagai modal pengembangan diri secara produktif, tidak semata berujung pada kebanggaan simbol A. Dari sini sangat logis kan ketika ilmu kita coba diselaraskan untuk mendukung praktik-praktik produktif, menciptakan karya dan memulai memasarkan karya tersebut ? Sangat bisa. Hanya tantangannya menggeser keterlenaan belajar yang tidak produktif ke produktif.

Event bedah buku, hasil karya mahasiswa dari proses panjang kuliah Psikologi Sosial

Inilah yang disayangkan. Sudah menghabiskan berbagai sumberdaya, tetapi tidak pernah mampu dijadikan pemantik terhadap aktifitas belajar produktif. Sedih kan kalau begini. Padahal bisa lo, sejenis mata kuliah psikologi sosial, proses belajar ini dapat dikembangkan sebagai sarana merintis produktifitas itu dan digunakan sebagai rintisan karir. Coba simak beberapa contoh berikut ini.

Baca Juga :   Dari Penjual Sastra Untuk Mahasiswa : Tentang Perjuangan Skripsi

Cirving (Cirvle Solving). Alat peraga pertolongan pertama bagi santri (mahasiswa atau remaja) tata cara menyesuaikan diri dalam situasi baru, yakni di pondok pesantren. Criving ini diciptakan melalui kerja keras kelompok. Mereka menjawab tantangan sukses mereka sendiri dengan target, jika kita belajar psikologi sosial, menjadi calon konselor, bagaimana caranya kita bisa mendapatkan nominal uang sebagai ukuran miniatur karir dan sukses kita ? Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya menciptakan alat yang mereka sebut Cirving. Lihat produknya di link berikut Circle solving, alat konseling mandiri untuk mahir beradaptasi.

Alat ini bisa dijual seharga 25 ribu. Mereka mendapat untung 100 persen dari biaya produksi sebesar 12 ribu. Hitungan ini masih dalam skala per-pieces. Jika diproduksi masal, maka biaya produksinya bisa lebih kecil. Nah, pandangan kebermanfaatan yang aplikatif dan berdampak pada wujudnya nilai finansial dari setiap ilmu, niscaya akan melahirkan para pesohor karya monumental dan bernilai bisnis pada setiap jenjang strata-1. Bayangkan saja, kalau produk ini dioptimalisasi menggunakan ilmu yang dipelajari hingga semester akhir. Maka mahasiswa boleh jadi sudah mempunyai aset bisnis saat lulus kuliah karena kuliahnya sudah menekuni produk-produk kreatif yang terus dikembangkan berbarengan dengan keilmuan yang dipelajarinya di kelas.

Masih ada beberapa contoh lagi. Seorang mahasiswa yang menyintai dunia tulis menulis, berbekal ide menarik tentang membangun konsep diri sebagai salah satu tema di bab buku psikologi sosial, para mahasiswa penulis ini kemudian menantang dirinya keluar dari zona nyaman. Mereka melawan arus. Di kelas psikologi sosial, mereka berhasil menjual buku tersebut sejumlah 60 eksemplar, nyaris sebelum buku mereka benar-benar siap tercetak. Mereka sudah mendapat untung, bahkan sebelum ujian akhir semester berakhir, buku itu terjual 60 eksemplar. Mereka pun berhasil membuat event bedah buku yang dihadiri ratusan peserta. Semester tiga mereka. Berikut ini karya mereka, Melawan arus.

Ketika mereka di awal-awal kuliah belum menghasilkan miniatur produktif sebagai buah dari orientasi karir yang sebenarnya sudah terbentuk sejak SMA, maka sebenarnya mereka telah gagal sebagai generasi produktif. Jikalau kuliahnya melahirkan orang-orang yang menunggu, sementara beberapa mahasiswa sudah mampu melejitkan inisiasi produktif, di situlah mahasiswa sedang antri gagal.

 

 


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!