Ekspose Sukma

Kesepian, Waspada Dampak Psikologis Online Dating Romance Scam

Maret 2, 2021

author:

Kesepian, Waspada Dampak Psikologis Online Dating Romance Scam


Sukma.co – Anda kesepian, waspada dampak psikologis online dating romance?. Kebiasaan di rumah saja membuat seorang lebih intens dalam menggunakan media online. Facebook dalam penelitiannya pada pada maret 2020 mencatat pengguna internet melonjak selama pandemic covid-19. 70% digunakan untuk mengakses media sosial, 67% mencari informasi, dan 51% menonton film, sementara rata-rata waktu yang dihabiskan untuk menggunakan internet adalah 3 jam 26 menit perhari.

Melihat besaran angka penggunaan media sosial kita patut waspada, lantaran kejahatan dapat terjadi tanpa kita menyadarinya. Meminjam istilah bang napi bahwa kejahatan terjadi bukan karena niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan. Seperti yang terjadi baru-baru ini terjadi peretasan akun media sosial instansi pemerintahan, perguruan tinggi, sampai dengan peretasan akun media sosial milik pribadi, serta memungkinkan adanya online dating romance scam. Dalam kondisi seperti ini online dating romance scam kemungkinan terjadi karena seseorang tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan orang lain sebagaimana biasanya karena ada pembatasan aktivitas di luar. Lawson dan Leck (2006) dalam penelitiannya menemukan bahwa kesepian merupakan salah satu faktor yang memotivasi orang untuk berkencan secara online. Penelitian ini menyebutkan hubungan online yang dilakukan dapat mengurangi kesepian.

Baca Juga: Pahami Mitos dan Fakta di Balik Rencana Bunuh Diri

Online dating romance scam merupakan penipuan kencan romantis yang dilakukan secara online yang menargetkan pengguna situs kencan online. dalam Scammers Persuasive Techniques Model dijelaskan bahwa pelaku biasanya membuat akun palsu dengan foto hasil curian yang dapat membuat calon korban tertarik di situs dan aplikasi kencan. Selanjutnya melakukan permintaan pertemanan melalui situs media sosial populer seperti Instagram, Facebook, twitter atau lainnya. Setelah berteman, pelaku akan menghubungi target, menyatakan ketertarikan (bahkan mengucapkan cinta) dan meminta berpindah ke aplikasi perpesanan pribadi karena menginginkan hubungan yang eksklusif. Dalam hubungan eksklusif ini pelaku membangun dan mengembangkan hubungan saling mempercayai sehingga korban jatuh cinta pada pelaku, setelah itu pelaku meminta hadiah seperti parfum atau handphone kemudian berlanjut meminta sejumlah uang. Modus lain yang digunakan adalah pelaku memberi tambahan narasi seperti sedang kecelakaan dan membutuhkan uang untuk perawatan di rumah sakit fiktif, meminta tiket pesawat dsb. Pada akhir penipuan pelaku biasanya meminta korban untuk melepas pakaian dan melakukan tindakan seksual di depan kamera.

Baca Juga :   Sandal Habib Bahrul

Baca Juga: Kenali Apa itu Depresi dan Bagaimana Gejalanya

Whitty, M. T., & Buchanan, T. (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa terdapat beberapa dampak psikologi akibat dari online dating romance scam. Secara emosional mereka yang mengalami penipuan merasa malu, shock, marah, khawatir dan stres, ketakutan serta merasa diperkosa secara mental. Beberapa orang mengalami post-traumatic stress disorder sampai melakukan percobaan bunuh diri. Bahkan mereka yang melakukan tindakan seksual di depan camera merasa dilecehkan sehingga merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Dari sisi perubahan diri dan sosial, sebagian besar perubahan yang terjadi pada korban adalah perubahan negatif seperti hilangnya kepercayaan pada orang lain, memutuskan hubungan dengan orang lain, merasa kurang bersosialisasi, serta rendahnya harga diri dan kepercayaan diri. Selain perubahan sosial dampak lain yang dimunculkan adalah masalah yang berhubungan dengan “relationship” dengan pelaku. Dalam penelitian ini disebutkan bahwa kehilangan “relationship” dengan pelaku lebih menyakitkan dan menghancurkan dibanding dengan kehilangan uang. Bahkan mereka percaya meskipun hubungan yang dibangun dengan pelaku penipuan bukan hubungan nyata, namun hubungan dengan pelaku dianggap sebagai hubungan yang penting. Hal ini disebabkan karena korban sulit memisahkan pelaku dari identitas palsu yang dibuatnya.

Baca Juga: Begini Langkah Relaksasi Dzikir

Hal miris yang ditemukan dalam penelitian ini adalah orang-orang sekitar seperti keluarga, teman, rekan kerja tidak memberikan dukungan sosial, sehingga menuliskan trauma, berharap pelaku dijebloskan dalam penjara, bercerita kepada polisi (bahkan ada yang jatuh cinta dengan polisi), sampai dengan melakukan kampanye agar tidak ada korban lagi merupakan cara yang dianggap paling efektif untuk mengatasi masalah yang dihadapi.

Hal menarik dari penelitian ini adalah meskipun korban memutuskan untuk berhenti menggunakan situs kencan online, namun sebagian besar korban tetap menggunakan situs kencan online ini. Penyebabnya adalah mereka menganggap bahwa hubungan romantis fiktif yang dibangun dengan pelaku tidak mereka dapatkan di hubungan romantis pada kehidupan nyata.


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!