Opini

Generasi 4.0, Kamu Generasi Maju Atau Tertinggal?

Oktober 7, 2021

author:

Generasi 4.0, Kamu Generasi Maju Atau Tertinggal?


Sukma.co – Ungkapan yang sering muncul pada saat pembelajaran,”kalian adalah generasi 4.0”, entah kalimat tersebut merupakan sebuah kesengajaan atau pernyataan yang muncul seketika saat dialektika berlangsung. Meskipun kalimat “Generasi 4.0” sudah tidak asing lagi dikalangan pendidikan, namun ternyata bagi peserta didik di pedesaan kalimat itu masih tabu didengarnya.

Bagi penulis, Generasi 4.0 tidak lepas dari pembahasan revolusi industri 4.0 yang menggabungkan teknologi otomatis dengan cyber technology. Teknologi yang mengubah banyak bidang kehidupan manusia, baik dalam hal pendidikan pekerjaan bahkan gaya hidup mereka sendiri.

Mengutip istilah yang digunakan oleh Kemeninfo, terkait revolusi industry 4.0 yang digemakan pada Hannover Fair, 4-8 April 2011, menyimpulkan bahwa Istilah tersebut digunakan oleh pemerintah Jerman untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi.

gambar ilustrasi/ Peserta Didik Belajar di Lingkungan Sekolah

Meskipun revolusi industri 4.0 telah lama digemakan, pada kenyataannya dunia pendidikan di Indonesia masih perlu merangkak untuk bisa maksimal dalam bidang teknologi. Bukan karena mereka tidak melek Teknologi, tapi karena sistem dan infrastruktur yang belum maksimal.

Pemakaian Gadget disegala usia sudah tidak aneh lagi, anak anak, remaja, dewasa bahkan orang tua sudah lihai menggunakan gawai mereka. Tapi mengapa dunia pendidikan kita masih tertinggal jauh dari negara-negara lain akan hal Teknologi?

Kita ingat pernyataan Nadiem Makarim di awal ia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengejutkan berbagai pihak, “Kita memasuki era di mana gelar tak menjadi kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tak menjamin kesiapan berkarya dan belajar. Kita memasuki era dimana akreditasi tak menjamin mutu. Dan kita memasuki era di mana masuk kelas tak menjamin belajar”.

Menurut penulis yang juga sebagai Guru, pernyataan mas menteri tidak lah sepenuhnya betul namun tidak juga salah. Kita berada pada masa dimana manusia dimudahkan oleh teknologi dalam segala hal. Semangat belajar peserta didik tidak bisa kita samakan dengan orangtua atau kakek nenek kita yang penuh dengan perjuangan. Landasan ini yang menjadi tolak ukur bahwa Teknologi di negeri kita baru di tataran pemakai (consumers) dan belum pada level pengembang.

Baca Juga :   Tesis; Lakukanlah, Pasti Belajar

Selain pemanfaatan Teknologi yang baru di tahap pengguna, kemampuan peserta didik kota jauh lebih baik dibandingkan diwilayah pinggir kota bahkan desa ataupun wilayah pegunungan. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis dibeberapa sekolah, di kota A pada jenjang tingkat sekolah dasar (SD), kemampuan menggunakan teknologi sudah mahir. Sedangkan di desa B, pada tingkat sekolah menengah atas (SMA) kemampuan penggunaan teknologi yang sama dengan sekolah A masih jauh tertinggal.

Hasil pengamatan tersebut merupakan satu diantara sekian contoh nyata di lingkungan pendidikan kita. Jika kurikulum nasional diterapkan penuh di dunia pendidikan kita, dan pastinya ada keterlibatan dari berbagai pihak, seperti Guru, Sekolah, Peserta didik, Orangtua wali serta stackholder disekolah saling bergandengan dalam mewujudkan impian bangsa, penulis memastikan lambat laun Teknologi akan mendarah daging dalam setiap  pembelajaran. Sebagaimana yang sedang digalakkan oleh pemerintah tentang bagaimana berfikir tingkat tinggi (HOTS) dan pembelajaran yang terintegrasi dengan STEAM, 4C dan TPACK dapat terlaksana dengan maksimal.

Selain sistem yang sudah mulai digalakkan pemerintah, hal mendasar lainnya yakni infrastruktur. Jika sebelum pandemi masyarakat banyak menentang kebijakan mas menteri yang berhubungan dengan pembayaran online sampai dengan sekolah online/daring, pandemi  covid 19 ini telah merubah gaya hidup kita. Baik dalam hal pekerjaan, transaksi, komunikasi, hingga pendidikan. Tanpa kita sadari Teknologi akan menjadi kebutuhan dasar kita. Kita masih menentang Teknologi? siap siap Anda akan tertinggal. 

Penulis:

Novia Muna Muzdalifah (Seorang guru dan Pemerhati TIK di Lamongan Jawa Timur), dapat dihubungi melalui akun facebook

Editor: Miftahus Surur

Originally posted 2021-01-07 08:50:00.


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!