Essay Kolumnis Sosok Stories

FILANTROPI: ORKESTRA KEBAIKAN SEMU ATAU NYATA?

April 15, 2020

FILANTROPI: ORKESTRA KEBAIKAN SEMU ATAU NYATA?

SUKMA.CO – Menyandang status sebagai negara berkembang dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah nyatanya tidak menyurutkan gelombang filantropi di negeri ini. Pasalnya, untuk pertama kali dalam sejarah, di tahun 2018 lalu Indonesia berhasil menduduki posisi teratas sebagai negara ‘paling dermawan’ di dunia. Australia menempati urutan dua, disusul dengan dua negara maju lainnya seperti Selandia Baru dan Amerika Serikat. Pencapaian tersebut menegaskan bahwa negara berkembang pun memiliki kepedulian yang besar terhadap sesama.
Prestasi tersebut merujuk dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaga amal Inggris, Charities Aid Foundation (CAF). Dasar penilaian dari survei unik tentang tren kemurahan hati di seluruh dunia ini merujuk pada tiga aspek kebaikan, yakni kesediaan membantu orang asing atau yang tidak dikenal, menyumbang uang untuk amal, dan partisipasi aktif dalam kegiatan kerelawanan (CAF, 2018).

Hemat penulis, kemajuan gerakan filantropi di Indonesia dipicu oleh berkembangnya paradigma baru yang direspon tanggap oleh pegiat filantrop muda sehingga memunculkan inisiatif kewirausahaan sosial dalam menjalankan fungsi filantropi yang lebih optimal. Paradigma baru tersebut didorong oleh keresahan para filantrop akan kecenderungan pola menyumbang masyarakat yang masih bersifat tradisional. Alih-alih menekankan pada semangat pemberdayaan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang lebih mandiri, pegiat filantrop justru lebih berfokus pada aspek materi, atau pemberian bantuan langsung untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek masyarakat seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Baca Juga: Simalakama Papua: Catatan Perjalanan Dokter Pejuang HIV AIDS

Selanjutnya, keterlibatan aktif pemuda, atau yang lebih dikenal dengan kaum milenial dalam dunia filantropi telah berhasil menghadirkan inovasi untuk memudahkan penggalangan donasi bagi masyarakat. Inovasi yang didorong oleh perkembangan teknologi ini kemudian melahirkan tren baru bernama filantropi digital. Cara pandang pemuda Indonesia dalam melakukan praktik filantropi pun turut merubah citra yang melekat pada gerakan filantropi. Gerakan filantropi yang pada mulanya dinilai cenderung eksklusif hanya untuk golongan elit, atau orang kaya ini sontak berubah menjadi kian inklusif semenjak meningkatnya aksi kedermawanan yang dilakukan oleh kaum milenial. Pasalnya, milenial Indonesia kini memandang gerakan filantropi sebagai bagian dari gaya hidup. Hal-hal inilah yang menjadikan sepak terjang pemuda dalam praktik filantropi di Indonesia menjadi begitu penting dan menarik untuk dikaji lebih mendalam.

Saat menulis esai ini, penulis memang belum menemukan data valid menyangkut jumlah lembaga dan organisasi filantropi yang didirikan oleh kaum milenial Indonesia. Meskipun begitu, bukan hal yang sulit untuk menyaksikan dan merasakan betapa dahsyatnya inisiatif gerakan filantropi yang bertebaran di linimasa. Namun, apakah praktik filantropi di Indonesia sudah benar-benar bermanfaat dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan publik? Jawabannya bisa iya atau bisa juga tidak. Hal ini bergantung pada perspektif masing-masing pribadi dalam memaknai filantropi.

Secara harfiah, filantropi dimaknai sebagai suatu bentuk sikap kepedulian individu, atau kelompok terhadap orang lain yang diwujudkan dengan memberi tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Pemaknaan filantropi umumnya kerap disamakan dengan istilah karitas (charity). Oleh Payton & Moody (2008) filantropi didefinisikan sebagai aksi moral dalam merespon problematika masyarakat. Adapun definisi secara luas mengenai filantropi dipaparkan oleh W.K. Kolleg Foundation sebagai tindakan sukarela yang merujuk pada pemberian waktu, uang, dan pengetahuan untuk kebaikan bersama (Munawar, 2018).

Pada tataran dasar, masyarakat akan berpendapat bahwa menyisihkan sebagian materi yang dimiliki untuk membantu orang lain yang membutuhkan sudah merupakan bagian dari filantropi. Akan tetapi, tindakan pemberian sumbangan langsung inilah yang justru dapat memicu efek negatif berupa kemalasan pada diri masyarakat, ungkap Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia, Timotheus Lesmana dilansir oleh Fisip.ui.ac.id (18/10/18).

Pandangan di atas mengingatkan penulis pada sebuah pepatah China yang berbunyi; “Beri seorang pria ikan, dan anda akan memberinya makan selama satu hari ini. Ajari seorang pria memancing dan anda akan memberinya makan selama sisa hidupnya” (Ban & Hawkins, 1999). Penulis kemudian menyadari bahwa tindakan kedermawanan seringkali hanya berdampak sesaat dan belum mampu menyentuh akar permasalahan sosial yang menimpa masyarakat.

Esai ini mengakui adanya perbedaan mendasar antara praktik karitas dan praktik filantropi. Meskipun keduanya merupakan bagian dari aktivitas kemanusiaan, penulis memaknai praktik karitas sebagai upaya pemberian bantuan yang bersifat jangka pendek kepada kelompok yang membutuhkan. Pengertian ini jauh berbeda dengan filantropi yang menaruh perhatian mendalam kepada proyek jangka panjang untuk pemberdayaan masyarakat guna mengatasi akar permasalahan yang menjerat kelompok lemah dan kurang beruntung seperti masyarakat menengah ke bawah, dan penyandang disabilitas.

Kaum Milenial: Aktor Utama Gerakan Filantropi Digital

Terhitung selama kurun waktu lima tahun terakhir ini aktivitas milenial dalam berderma perlahan berhasil menggeser citra lama para pegiat filantropi. Sebelumnya, para filantrop identik dengan sosok-sosok konglomerat, individu yang lanjut usia, atau pensiunan dengan sumber daya finansial melimpah, lalu kemudian mendirikan yayasan.

Oleh milenial Indonesia, citra filantrop menjadi lebih inklusif karena keberhasilan mereka dalam membangun perspektif baru mengenai praktif filantropi. Kaum milenial meyakini bahwa siapapun mampu mengambil peran dalam kegiatan filantropi. Filantropi bukan lagi menyoal pada seberapa besar materi yang bisa individu sumbangkan. Namun, lebih kepada seberapa besar passion, inovasi, dan motivasi untuk membantu sesama. Selain itu, jenis sumber daya yang disumbangkan oleh kaum milenial pun semakin berkembang. Ide, ilmu, tenaga, dan waktu bagi mereka sama berharganya dengan jumlah nominal yang didonasikan. Keyakinan tersebut lalu mendorong pemuda untuk memanfaatkan kekuatan teknologi digital guna mendukung kegiatan filantropi di Indonesia.

Ide untuk menggunakan platform media digital seperti situs dan media sosial sebagai medium efektif untuk menggalang donasi ini muncul di saat yang tepat. Tidak butuh waktu lama bagi kaum milenial yang dikenal akrab dengan dunia digital untuk terkoneksi satu sama lain dalam aksi kebaikan membantu sesama. Situs-situs seperti Kitabisa.com, WeCare.id, Gotongroyong.com, dan Aksicepattanggap.com merupakan beberapa representasi sukses praktik filantropi digital besutan kaum milenial Indonesia. Keempat platform digital tersebut mendapatkan sambutan yang baik oleh masyarakat karena dinilai mampu mendorong lebih banyak orang untuk berdonasi pada kegiatan penggalangan dana untuk beragam tujuan sosial. Aktivitas pengumpulan donasi secara online untuk tujuan sosial pun mulai menggeliat.

Para filantrop muda harus berterima kasih pada era digital yang menghadirkan instrumen penggerak utama untuk melakukan aksi kebaikan dengan praktis dan efisien. Bermodalkan gawai yang terhubung dengan koneksi internet, gerakan filantropi digital yang dipopulerkan pemuda telah mewujud menjadi sebuah orkestra kebaikan yang bisa dimainkan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. Sayangnya, aksi kebaikan yang ditonjolkan dalam pemanfaatan teknologi digital ini lebih banyak mendukung praktik filantropi yang berorientasi karitatif. Hal ini sebenarnya sama saja dengan membiarkan saudara-saudara kita yang lemah menjadi terus bergantung dan tidak mendukung mereka untuk meraih asa hidupnya sendiri melalui proses pemberdayaan yang sebenarnya lebih mereka butuhkan.

Ringkasan Filantropi Semu VS Filantropi Nyata

Thisable Enterprise: Spirit Filantropi berbasis Kewirausahaan Sosial

Seiring berjalannya waktu, paradigma dalam praktik filantropi di Indonesia bertransformasi sedemikian rupa sehingga memunculkan inisiatif baru dalam proses pelaksanaannya. Insiatif tersebut berusaha memadukan organisasi bisnis dengan gerakan filantropi guna memberikan kebermanfaatan yang lebih besar. Inisiatif yang kemudian dikenal dengan nama social enterprise (SE) atau kewirausahaan sosial ini sebenarnya hadir sedikit terlambat di Indonesia.

Masyarakat Amerika Serikat (AS) misalnya, sebelum tahun 1969 mereka sudah mulai mengenal istilah ‘ventura filantropi’ (VP) melalui John D. Rockefeller. Tokoh filantrop asal AS ini menggambarkan perlunya melakukan uji coba pendekatan baru terkait penggalangan dana pada masalah-masalah sosial di AS (John, Tan & Ito, 2013). Gerakan VP di Amerika Serikat semakin menggeliat di akhir tahun 90-an, terlebih ketika Michael E. Porter dan Mark R. Kramer, akademisi dari Harvard Business School secara lantang menantang pemilik yayasan dan perusahaan untuk menciptakan nilai lebih dari aktivitas kedermawanan yang mereka kerjakan.

Tantangan tersebut lantas direspon positif melalui upaya pembenahan visi, dan perancangan strategi, serta program yang mampu memberdayakan masyarakat penerima bantuan setelah sebelumnya lebih sering bertindak pasif dalam menyalurkan bantuan kepada penerima hibah. VP inilah yang kemudian menjadi cikal bakal dari lahirnya pegiat filantropi berjiwa wirausaha. Pendekatan filantropi model ini lebih menekankan pada kepedulian meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibandingkan mengejar keuntungan pribadi atau perusahaan.

Di Indonesia, perbincangan seputar social enterprise mulai menguat dalam beberapa tahun terakhir. Penulis memang belum mengetahui secara pasti kapan momentum yang menjadikan inisiatif ini mulai berkembang signifikan. Namun, penulis menemukan bahwa semakin banyak individu dan kelompok yang tertarik menggunakan pendekatan SE dalam gerakan filantropi yang digagasnya. Menariknya, sebagian besar pegiat filantropi yang mengaplikasikan pendekatan SE ternyata berasal dari kaum milenial. Melalui sosok muda bernama Angkie Yudistia, penulis menjadi semakin yakin bahwa kolaborasi praktik filantropi dengan kewirausahaan sosial merupakan formula yang sempurna bagi para filantrop untuk mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia, khususnya bagi para penyandang disabilitas.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional 2018, diketahui sebanyak 12,29% atau 31,2 juta jiwa penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas. Prevalensi penyandang disabilitas usia produktif menempati urutan kedua dengan persentase mencapai 11,12% (Hastuti, dkk., 2019). Penyandang disabilitas tergolong lebih rentan terhadap isu kemiskinan karena menghadapi keterbatasan akses terhadap kesehatan, pendidikan, pelatihan, dan pekerjaan yang layak.

Dilansir oleh CNN Indonesia (30/10/2018), Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menyatakan bahwa tingkat penyerapan tenaga kerja disabilitas masih terbilang rendah. Pasalnya, dari 230 ribu tenaga kerja di 440 perusahaan yang terdaftar, hanya sebanyak 1,2% tenaga disabilitas yang berhasil ditempatkan dalam sektor tenaga kerja formal. Survei milik Badan Perencanaan Pembangunan Nasional juga menyebutkan baru 25% penyandang disabilitas yang mendapatkan kesempatan kerja di sektor formal dan informal. Tantangan terbesar terletak pada kurangnya penerimaan dan besarnya keraguan masyarakat terhadap kemampuan penyandang disabiltas dalam lingkungan kerja. Hal inilah yang membatasi mereka dalam meraih pekerjaan untuk hidup mandiri sebagaimana individu non-disabilitas lainnya.

Stigma negatif terhadap kemampuan kerja penyandang disabilitas juga menimpa Angkie, pendiri perusahaan Thisable Enterprise. Pada usianya yang ke 10 tahun, Angkie divonis tuli setelah sebelumnya terserang malaria. Situasi ini memberikan pukulan yang luar biasa mengingat dirinya sebelumnya terlahir normal. Namun, keterbatasan tersebut ternyata tidak menyurutkan semangat Angkie untuk meraih sukses. Hal ini terbukti melalui keberhasilannya dalam meraih gelar master komunikasi. Meski begitu, Angkie harus menerima kenyataan pahit ketika mendapatkan penolakan dari beberapa perusahaan tempat ia dulu melamar pekerjaan. Tak disangka, pengalaman buruk inilah yang justru menginspirasi Angkie mendirikan Thisable Enterprise untuk membantu para penyandang disabilitas lainnya agar tidak mengalami kejadian yang sama seperti dirinya.

Thisable Enterprise berangkat dari masalah sosial yang ingin dituntaskan oleh sang pendiri, yakni kesulitan penyandang disabilitas Indonesia dalam mengakses pekerjaan. Sejak tahun 2011, Thisable Enterprise resmi berkomitmen menjadi agen rekruitmen untuk tenaga kerja disabilitas agar dapat mandiri secara ekonomi. Angkie juga berfokus untuk menyediakan pelatihan keterampilan bagi mereka yang hendak berwirausaha, dan mendorong pengembangan ide kreatif membuat suatu produk yang mampu diterima oleh pasar. Hasilnya, pada tahun 2016 lalu Thisable Enterprise sukses menggelar launching produk bertajuk ‘1 Juta Karya Difabel’. Karya yang paling menyedot perhatian publik ialah produk kecantikan.

Tidak sampai disitu, perusahaan yang kini membuka cabang di daerah Bandung ini bahkan berhasil membangun kemitraan dengan Go-Life, perusahaan rintisan Go-Jek, untuk menghadirkan ketersediaan lapangan kerja bagi tunanetra di layanan Go-Massage, tunarungu di layanan Go-Clean, Go-Auto, dan Go-Glam. Berkat kerja sama itu, Thisable Enterprise mampu menyalurkan 2800 penyandang disabilitas ke beberapa perusahaan untuk bekerja. Beberapa bahkan berhasil diterima di sektor perbankan. Thisable Enterprise kini berencana untuk melakukan pengembangan aplikasi digital perusahannya untuk para disabilitas.

Melalui Thisable Enterprise, Angkie membuktikan bagaimana suatu proses pemberdayaan mampu menciptakan perubahan struktural yang begitu besar bagi para penyandang disabilitas di Indonesia. Praktik filantropi yang dijalankan oleh Angkie semakin menegaskan bahwa spirit filantropi berbasis kewirausahaan sosial yang menekankan pada unsur pemberdayaan ternyata tidak hanya terletak pada target misi sosial semata, namun mampu menjadi bagian dari proses kegiatan sosial dan bisnis sebuah social enterprise tersebut.

Baca Juga: Menjadi HERO untuk Bahagia bagi Remaja Panti Asuhan

Di jaman ini kita menyaksikan bagaimana eksistensi pemuda telah mendorong eskalasi gelombang filantropi di Indonesia melalui inovasi yang mereka ciptakan. Dengan memanfaatkan teknologi, pemuda merubah pola menyumbang dan penggalangan dana dari konvensional menjadi digital. Kontribusi yang diberikan tidak lagi sebatas pada dana tetapi diperluas pula pada bentuk sumbangan keterampilan, pengetahuan, ide, waktu, dan tenaga. Paradigma dalam menjalankan praktik filantropi pun mulai menekankan pada upaya pemberdayaan masyarakat dan pendampingan yang konsisten dibandingkan sekedar memberi untuk kebutuhan jangka pendek semata

Thisable Enterprise merupakan salah satu representasi dari gerakan filantropi milik pemuda yang menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sumber daya manusia dan ekonomi kreatif. Inisiatif mengolaborasikan kewirausahaan sosial dalam gerakan filantropi didasari pada keresahan pegiat filantropi terhadap praktik filantropi berorientasi karitatif yang menjadikan masyarakat menjadi tidak mandiri karena terus bergantung pada donasi.

Penulis menyadari betul bahwa praktik filantropi untuk karitas ini memang tidak bisa ditinggalkan. Namun, akan jauh lebih baik bila gerakan filantropi jenis ini mulai dikurangi porsinya, lalu seluruh praktik filantropi lebih difokuskan untuk pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan, yang dampaknya lebih besar serta berorientasi jangka panjang untuk peningkatan kesejahteraan bangsa.

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!