Psikobisnis Sosok Stories

Faizah; Desainer Pantang Menyerah dan Mandiri Sejak Kuliah

Oktober 18, 2018

author:

Faizah; Desainer Pantang Menyerah dan Mandiri Sejak Kuliah


Sukma.co– Menjadi mandiri dan maju kadang bermula dari ketidakberdayaan dan larangan di sana sini. Namun, bagi Faizah, ketika dihadapkan pada banyak benturan, justru dia semakin mandiri dan meringankan beban orang tua. Kemampuan terus berjuang dan optimis adalah modal bagi tercapainya kesuksesan. Semuanya bisa dilalui meski berbagai mimpi yang kita harapkan tidak sejalan. Faizah, desainer dengan brand Faizah Rohmah Fashion, mampu mandiri sejak kuliah. Berikut wawancara Mohammad Mahpur dengan Faizah Rohmah melalui whatsapp.

Awal anda memulai bisnis, dari mana ide dasar bisnis Anda dimulai ?

Mulai bisnis sebenarnya sudah sejak di sekolah SMK kelas sebelas. Waktu itu saya mulai menerima jahitan dan pelanggan pertama adalah kepala sekolah. Setiap semester di sekolah mendapat materi yang berbeda dan tentunya dengan tingkatan yang semakin menantang. Pada saat pratik pembuatan busana hampir jarang beli kain, karena tidak ada modal, jadi saya selalu menjahitkan bajunya para guru-guru. Yang terpentig bagi saya bisa praktik dan dapat uang, namun saya jadi tidak mempunyai hasil karya yang bisa dibawa pulang.

Saya termasuk anak yang tidak mau hanya dikasih satu kerjaan saja, melainkan hampir semua teknik pengerjaan saya harus bisa

Pada pergantian semester satu ke dua di sekolah SMK, saya PKL (praktik kerja lapangan). Surabaya adalah tempat pra-kerin saya. Di sana saya belajar banyak hal tentang desain. Mulai dari busana ready to wear sampai busana pesta. Teknik yang digunakan adalah drapping, yang mana busana drapping ini sangat berbeda dengan busana dengan teknik pola pada biasanya. Selama 5 bulanan, saya termasuk anak yang tidak mau hanya dikasih satu kerjaan saja, melainkan hampir semua teknik pengerjaan saya harus bisa. Mulai dari cara memotong rok gaun, payet, pembuatan kemben, drapping busana, menjahit bolero dan sebagainya.

Saya takut kehilangan ilmu busana saya. Ketakutan itu membawa semangat untuk terus berlatih dengan mencari pengalaman dimana saja dan kapan saja. Berdasarakan pengalaman selama ini, membuat saya akhirnya memutuskan untuk berkarya sendiri dengan bantuan kakak saya

Baju pengantin. Jahitan dari Faizah Rohmah. Harga bisa dinego.

Setelah lulus SMK, saya tidak bisa melanjutkan kuliah. Saya mengikuti kegiatan kursus menjahit dan bekerja di butik. Saya takut kehilangan ilmu busana saya. Ketakutan itu membawa semangat untuk terus berlatih dengan mencari pengalaman dimana saja dan kapan saja. Berdasarakan pengalaman selama ini, membuat saya akhirnya memutuskan untuk berkarya sendiri dengan bantuan kakak saya yang selalu membantu saya mencari pelangan hehe keluarga dan teman-teman yang selalu support.

Bagaimana hubungan antara perintisan bisnis itu dengan bakat anda atau latar-belakang pendidikan Anda dulu

Mau tidak mau harus saya jalani meski dengan sedikit berat hati

Sebenarnya dulu saya tidak suka dengan dunia busana, namun karena pilihan orang tua untuk menggambil jurusan busana desain, mau tidak mau harus saya jalani meski dengan sedikit berat hati. Lingkungan sekolah yang mendukung dan guru-guru tercinta yang membimbing dan mengajarkan saya banyak hal. Teman-teman yang baik, kakak kelas yang mengajari menggambar dan sebagainya yang membuat saya merasa nyaman dan bisa menarik hati.

Yaa… itulah desain dunia yang penuh warna. Sampai pada akhirnya desain bisa melekat di hati, hehehe.

Tantangan apa sehingga Anda harus sudah berusaha sejak memulai kuliah

Tantangan terbesar saya adalah saya tidak dizinkan untuk bisa kuliah karena keadaan keluarga yang tidak mencukupi dan tidak ada yang mendukung membuat saya semakin tambah yakin bahwa saya tetap bisa kuliah.

Dalam hidup saya prinsipnya saya harus terus belajar sampai kapanpun. Hal inilah yang akhirnya memaksa saya untuk pantang menyerah membuat desain-desain, mengembangkannya, menjual dan apapun itu saya lakukan.

Saya bertekad kuliah dengan tidak merepotkan orang tua dan akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa. Dalam hidup saya prinsipnya saya harus terus belajar sampai kapanpun. Hal inilah yang akhirnya memaksa saya untuk pantang menyerah membuat desain-desain, mengembangkannya, menjual dan apapun itu saya lakukan.

Meski waktu itu saya hampir jarang tidur hehe karna sibuk dengan desain. Saya sudah dua tahun tidak kuliah bukan berarti saya tidak diterima, tetapi saya tidak diterima dengan jurusan yang saya sukai. Rencana Tuhan itu lebih baik. Saat dua tahun saya tidak diterima, mungkin Tuhan tahu kemampuan saya, dan sayapun tidak ada kesiapan sama sekali untuk melanjutkan kuliah.

Waktu yang ada itu saya manfaakan sebaik, semaksimal mungkin unuk berkarya. Saya tetap tidak menyerah untuk mengikuti tes SBMPTN dengan jurusann tersebit, dan tetap saja tidak diterima. Akhirnya saya mengambil jurusan psikologi ini karena mau jadi apa saya nanti. Diri saya yang paling menentukan. Banyak bersyukur masih diberi kesempatan untuk belajar bersama teman-teman dengan bapak/ibu dosen yang totalitas membimbing dan staf fakultas dan banyak deh heheh.

Untuk menundukkan tantangan, kemampuan apa yang dibutuhkan untuk para muda seperti Anda

Tekad dan pantang menyerah. Setiap orang pasti mempunyai masalah dan kesulitannya masing-masing. Saya pernah mengalami peristiwa, dimana pada saat itu saya tidak bisa diterima di universitas yang saya impikan. Saya tidak bisa melanjutkan sekolah. Saat itu rasanya tidak bisa menerima keadaan. Saya hanya bisa menangisi keadaan, heheh alay deh zaah. Tapi di sini saya tidak berhenti di situ saja. Saya terus berjuang dan selama dua tahun. Saya tetap tidak diterima di jurusan yang saya inginkan

Faizah Rohmah (Paling Kanan). Desainer muda berbakat, bersama dengan hasil karya keren. Saat ini masih semester 5 tetapi sudah punya bisnis mapan.

Saya terus mencoba karena saya betul betul pingin masuk di jurusan itu tetapi apalah daya saya diterima di jurusan psikologi.

Awalnya saya menggangap ini Tuhan tida adil. Lambat laun saya sadar bahwa ini adalah sebuah tantangan untuk saya terus belajar tidak hanya di jurusan/universitas itu saja. Dan masalah seperti ini tidak menghalangi saya dalam berkarya

Awalnya saya menggangap ini Tuhan tida adil. Lambat laun saya sadar bahwa ini adalah sebuah tantangan untuk saya terus belajar tidak hanya di jurusan/universitas itu saja. Dan masalah seperti ini tidak menghalangi saya dalam berkarya. Belajar di mana, dengan siapa dan kapan saja bisa dilakukan. Saya yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.

Hidup memang begitu, terkadang tidak memberikan apa yang diharapkan dari yang terjadi, tetapi itu membuat saya untuk menjadikannya yang terbaik. Tuhan mahasegala-galanya. Tetap positif dan pantang menyerah.

Hal utama dalam bisnis selalu terkait dengan dua hal, satu modal dan satu pasar. Bisakah Anda ceritakan pengalaman keduanya

Asal mula modal yaitu saya dapat pinjaman dari kakak saya. Ada perjanjian pinjaman, yakni saya tidak boleh bekerja lagi di luar. Adapun pelanggan saya pertama adalah teman kakak saya sendiri.

Berawal dari situlah kemudian saya kembangkan dengan membuat gaun dan dijual. Nah, pada saat itu teman saya mengajak untuk berkunjung ke salon. Saya menjualnya di salon tersebut. Bagi saya, mengembangkan relasi adalah kuncinya dan yang paling penting membuat saya semakin lumayan dikenal hehe. Relasi ini kebanyakan dari para pelanggan dan teman-teman yang punya salon.


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!
Baca Juga :   Kesempatan dan Tanggung Jawab Sosial Pelaku StartUp (#Part2)