Cerpen Imajinasi

Cerpen : Sarjana Psikologi Gendeng

Agustus 5, 2020

author:

Cerpen : Sarjana Psikologi Gendeng

Sepulang Zaka dari perantauannya justru membuat geger sekampung halaman. Bukan karena menggagahi seorang gadis ataupun mencuri barang seperti kebanyakan mahasiswa yang terjadi saat ini, melainkan menjadi sarjana gendeng. Ya, benar-benar gendeng. Setiap pagi ia berangkat ke sawah milik bapaknya yang hanya seluas sepetak lalu berceramah di sana, tidak ada manusia satupun kecuali seorang diri. Berbicara sendiri sebelum nyawah. Seakan-akan sawah adalah rakyat dan Zaka adalah presidennya. Layaknya oratur ulung dengan meniru gaya Bung Karno yang membara. Semua orang menganggap itu gila. Bahkan bapak dan ibunya bertanya kepadanya. Hanya bisa geleng-geleng tak mengerti maksud anaknya.

Pernah kedua orangtuanya memertemukan ia dengan kyai desa untuk diruqyah, ternyata mbendal. “Aku iki waras, Pak, Buk! Lapo digowo nang Kyai barang, percuma”.

Dimana-mana, mana ada orang gila yang mengakui dirinya gila, selalu menganggap dirinya waras, bukan?. Itulah yang sering dipegang masyarakat desa, bahkan kedua orangtuanya mengiyakan pula. Semakin hari semakin sering Zaka ke sawah dan melakukan ceramah, serta terkadang disambung dengan tahlilan dan yasinan sekaligus, bahkan istighotsah.

“Ooo… wong edan!” ketus petani yang sempat meliriknya. Ucapan ini tak hanya sekali, melainkan berkali-kali sering suara ini masuk ke daun telinganya.

Orang-orang ini tak mengerti maksudku. Dan memang aku terdengar gila di luar sana, tapi lihat saja nanti, siapa yang tertawa. Zaka meyakinkan dirinya sendiri. Zaka memang dari kecil terkenal ajeg dengan pendiriannya, persis mendiang eyangkungnya, yang merupakan tokoh desa, yang mbabat desa Raga. Semula yang merupakan hutan dan penuh semak belukar menjadi sebuah tempat berteduh lalu mukim di sini. Memiliki istri sembilan, dengan riwayat banyak menikahi janda lalu wafat, menikahi janda lalu wafat, menikah dan wafat, dengan selang jangka waktu yang tak sampai sejengkal tahun. Sehingga memiliki istri sembilan bukanlah yang mengejutkan. Hebatnya eyangkung adalah merawat anak dari para janda dengan membagi sawah secara adil, walau sepetak-sepetak.

Zaka adalah cucu keturunan tunggal eyangkung. Eyangkung, menikah dengan Eyang putri, istri kesembilan yang satu-satunya perawan dan memiliki anak tunggal, yaitu ayahnya sendiri. Dan sekarang ayahnya hanya memiliki Zaka seorang. Zaka yang terkenal pendiam sejak kecil, sekarang suka berbicara, sekali berbicara dicap masyarakat gila.

“Wahai sawahku, kau adalah sawah terbaikku, selayaknya anak-anakku, kau bagaikan rembulan yang bertengger di selimut kegelapan malam, kau adalah cahaya penyejuk jiwa, kurawat dengan sepenuh jiwa, dan kupanen dengan sepenuh raga.” Dan banyak kosakata lagi yang sering keluar dari bibir Zaka. Setiap hari begitu.

Tetapi anehnya, sawahnya selalu tumbuh subur jika dibandingkan dengan petak sawah sebelah. Tanpa hama, tanpa gagal panen. Padinya tumbuh dan berkembang dengan baik. Bahkan jika dinanak menjadi nasi di meja makan, rasanya sangatlah lezat. Padahal hanya nasi, tetapi semua orang suka dengan hasil panennya.

“Udahlah, Pak, capek aku ngurusi anak kita yang dibilang gila, yang penting hasil panennya nggak segila dirinya.” Ucap Ibu Zaka ke Bapaknya. Sepertinya Ibunya menyadari sesuatu dan mulai mengerti apa yang dilakukan anak semata wayang.

“Udahlah, Bapak-Ibu tak usah mendengar kata orang aku seperti apa saat di sawah, lihat aja hasil panennya yang penting merimpah ruah dan berkembang. Toh, gilanya aku pada saat di sawah saja, kalau sudah sampai rumah udah waras kok. Haha.. ” tawa Zaka sembari ngudut dengan lintingan tembakau asal Jogjakarta, tidak lupa sedia juga secangkir kopi gayo asal Aceh di meja coklat dengan ukiran batik khas jawa di hadapannya.

Lima tahun sepulang Zaka dari perantauannya, sawahnya sekarang meluas berhektar-hektar mengalahkan saudaranya bahkan tetangganya. Pada tahun kedua Zaka mengumrohkan kedua orang tuanya, dan pada tahun ketiga mengumrohkan saudaranya yang belum pernah pergi ke Tanah Suci, alias yang miskin di kerabatnya, ada empat orang, Leli, Zidan, Raka dan Ubay. Tahun kelima, saat ini, mengumrohkan kaum dhuafa di desa Raga, ada Sembilan orang, dan telah diumumkan akan mengumrohkan tukang becak dan pedagang kaki lima di tahun-tahun selanjutnya, bahkan jika semua sudah mendapatkan jatah umroh, akan berlanjut rehabilitasi rumah, jika usaha sawahnya lancar dan berkembang.

“Pancen gendeng, wong kui gendeng tenan, kok iso sugih, opo melu pesugihan, yo?” beberapa masyarakat mulai resah, bahkan ada yang menuduhnya musyrik. Dulu gila sekarang musyrik. Tetapi, hanya sebagian yang berani mengatakan demikian. Karena sebagian lainnya yang lebih mendominasi acuh tak acuh, yang penting dapat cipratan sugihnya, tak masalah.

Suatu ketika Zaka pergi ke makam Eyangkung di sudut desa Raga. Ia menyapu membersihkan daun-daun yang mengotori sekitar. lalu ditanamnyalah tanaman kamboja di sebelah makam, yang dipercaya dapat mengurangi siksaan kubur. Setelah dibacakan tahlil dan yasin, Zaka berbisik pada nisan Eyangkung “wong-wong ancen gak ngerti psikologi tanaman, Mbah, kudu piye maneh, ancen aku kudu tatak dewe. Sekarang semua sudah terbuka matanya, dan menerimaku, walaupun masih ada yang mengira aku penganut pesugihan, aku cuma nurut opo dawuhe jenengan, nek urip kui kudu rekoso senajan ambyar ra karuan!”

Tambakberas, 05 Agustus 2020
*Terinspirasi dari Andi, sahabat karib yang menyukai psikologi dan tanaman

Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!