Psikologi Populer

Berdamai dengan Duka dan Kehilangan

September 21, 2021

Berdamai dengan Duka dan Kehilangan


Tidak ada yang abadi di dunia ini, begitupun dengan orang-orang yang kita sayangi. Akan ada masa di mana orang yang kita sayangi pergi meninggalkan kita, entah meninggal dunia atau memang memilih untuk pergi dari hidup kita. Fase kehilangan yang orang kita sayangi disebut dengan grieving atau berduka. Berduka juga diartikan sebagai respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, cemas, sesak nafas, susah tidur dan lain sebagainya (Laluyan et al., 2014).

Setiap orang melewati fase duka dengan cara yang berbeda-beda. Proses berduka merupakan pengalaman yang sangat pribadi namun sering ada kesamaan antara proses yang dialami oleh banyak orang. Secara umum, terdapat lima tahap fase berduka atau stages of grief (Kubler-Ross, 2008). Berikut ini penjelasan dari kelima tahapan berduka.

Penyangkalan (denial)

Penyangkalan pada tahap pertama ini adalah reaksi yang sangat wajar. Penyangkalan atau denial sebenarnya dapat membantu seseorang untuk mengurangi rasa sakit dari situasi kehilangan yang sedang dihadapi. Kendati demikian, sewajarnya tahap penyangkalan ini tidak berjalan terus-menerus. Kita mungkin berpikir, “Saya tidak percaya ini terjadi. Ini hanya mimpi”. Setelah keluar dari tahap penyangkalan, emosi-emosi yang selama ini terkubur akan muncul. Walaupun sulit tetapi ini merupakan bagian dari perjalanan kedukaan yang akan dilalui oleh siapapun.

Marah (anger)

Tahap berikutnya adalah adanya perasaan marah. Rasa marah adalah hal yang wajar muncul saat seseorang kehilangan. Kita sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan yang baru dan sedang mengalami kesedihan. Meluapkan itu semua dengan kemarahan mungkin terasa sebagai hal yang paling ‘benar’. Kita mungkin marah pada orang yang meninggalkan kita atau marah pada situasi yang tidak menyenangkan. Meski logika mengatakan bahwa mereka tidak patut disalahkan namun perasaan yang terlalu intens membuat kita menolak untuk berpikir secara rasional. Setelah kemarahan mereda, kita akan lebih mudah berpikir lebih rasional mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan merasakan emosi-emosi lain yang selama ini tersingkir oleh rasa marah.

Tawar-menawar (bargaining)

Kehilangan dan putus asa merupakan dua perasaan yang kerap berdampingan dalam menghadapi proses kedukaan ini. Biasanya kita melakukan apapun untuk meredakan kesedihan dan kemarahan yang dirasakan, salah satunya dengan tawar-menawar. Pada tahap kesedihan ini, biasanya kita akan memikirkan kalimat-kalimat pengandaian, seperti: “Seandainya saja aku mencari pertolongan dokter lebih cepat mungkin ayahku masih hidup”, dan lain sebagainya. Banyak orang juga melakukan tawar-menawar dengan Tuhan pada tahap ini agar mendapat kekuatan dari kedukaan dan rasa sakit. Padahal saat melakukan proses tawa-menawar ini kita sadar bahwa hal itu tidak mungkin terjadi.

Depresi (depression)

Selama proses berduka, ada saatnya emosi kita mulai mereda dan ini saatnya kita harus benar-benar melihat kenyataan yang terjadi. Pada tahapan depresi, kita dipaksa dan terpaksa menghadapi situasi sulit tersebut dan mengalami kesedihan serta kebingungan yang mendalam.

Penerimaan (acception)

Tahap terakhir dari fase berduka adalah penerimaan atau acceptance. Penerimaan di sini bukan berarti kita sudah benar-benar bahagia. Pada tahap ini, akhirnya kita telah menerima kenyataan yang ada. Terkadang masih terasa sedih namun pada tahap ini kita belajar untuk mulai hidup dengan situasi saat ini dan mencoba keluar dari fase kedukaan.

Tidak semua orang yang mengalami kedukaan melewati stages of grief dalam urutan yang sama. Tahapan dan jangka waktu yang diperlukan untuk menghadapi fase berduka pun berbeda-beda pada tiap individu. Bisa saja ada individu yang melewati fase tawar-menawar dengan cepat namun kembali menyangkal pada hari berikutnya. Fase berduka adalah proses yang sangat personal dan bisa jadi berbeda pada tiap individu.

“Grief is the price we pay for love” – Queen Elizabeth II


Referensi:

Kubler-Ross, E. (2008). On Death adn Dying What The Dying Have to Teach Doctors, Nurses, Clergy and Their Own Families. Routledge Taylor & Francis Group.

Laluyan, M., Kanine, E., & Wowiling, F. (2014). Gambaran Tahapan Kehilangan Dan Berduka Pasca Banjir Pada Masyarakat Di Kelurahan Perkamil Kota Manado. Jurnal Keperawatan UNSRAT, 2(2), 109350.

Baca Juga :   Menjadi HERO untuk Bahagia bagi Remaja Panti Asuhan

Originally posted 2021-08-22 02:57:49.


Silahkan login di facebook dan berikan komentar Anda!